Showing posts with label Perisai Diri. Show all posts
Showing posts with label Perisai Diri. Show all posts

Monday, January 18, 2016

Kombinasi Tangan Kosong

Kombinasi Tangan Kosong I Salam Bunga Sepasang,
1. Bersikap Harimau ke a.
2. Gesut ke i Lemparan Harimau.
3. Setempat tendang T a.
4. Daun melayang Pendeta i.
5. Melingkar ke i sikap Harimau.
6. Egos i sikap Naga.
7. Lompat ke belakang Tipuan putri i.
8. Melingkar ke i sikap Satria.
9. Maju a hempis ke i tebang Satria Naga a.
10. Gesut ke a Pendeta dalam i.
11. Kilat Gejug i spj kuntul i.
12. Daun melayang Satria Naga a.
13. Gesut a tabrak a.
14. Pancer i Pacul a spj Garuda a.
15. Daun melayang Garuda dalam i.
16. Mundur i sikap Kuntul a.
17. Gesut a tusuk Kuntul a.
18. Melingkar ke i sikap Harimau mengintai.
19. Egos i diangkat tarikan Harimau.
20. Kilat setempat Teratai a spj Tampar a.
21. Lompat ke depan tolak Putri Berhias.
22. Egos i sikap Mliwis.
23. Gesut a tusuk Mliwis dalam i.
24. Lompat i egos a Terkaman Harimau.
25. Melingkar ke i sikap Garuda.
26. Gesut i pukul Garuda i.
27. Balik badan Jiet mlumah tangan dua.
28. Mundur a tolak Luar Pendeta a dan
Dalam Bawah i.
29. Gesut i Pendeta dua.
30. Melingkar ke i sikap Naga menyelam.
31. Sapuan dalam a berdiri sikap Harimau
merendah.
32. Mundur i kipas Putri bersedia.
33. Gesut a Satria a.
34. Maju i putar badan ke a hempis sikap bunga
sepasang.
35. Tendang Gejlig i spj Pendeta.
36. Pancer i pukul Garuda dua.
37. Sabit Luar a.
38. Lompat ke depan Tebakan Harimau.
39. Mundur i sikap Satria a.
40. Egos a mematah dengan bunga sepasang.
Salam Penutup
Kombinasi Tangan Kosong II
Salam Bunga Sepasang,
1. Bersikap Bunga sepasang kaki I depan.
2. Maju I serong tolak Putri Berhias.
3. Lompat kuntul ke a sikap Naga.
4. Kilat Gejug I spj Kuntul i.
5. Daun melayang Pendeta a.
6. Melingkar a tolak Garuda Luar a.
7. Egos I sikap Garuda.
8. Gesut a Garuda a.
9. Melingkar I sikap Harimau mengintai.
10. Egos I diangkat Tarikan Harimau.
11. Kilat Slosor a spj Tohok a.
12. Lompat ke depan serong I tolak Pendeta a bawah.
13. Egos I sikap Satria.
14. Lompat I egos a sikap Kuntul.
15. Gesut I pukul Pendeta dua.
16. Mundur I Tolak luar atas I dan bawah a Pendeta.
17. Setempat T a spj Satria.
18. Daun melayang Satria Naga i.
19. Lompat depan a egos I sikap Meliwis.
20. Kilat ke a tusuk Meliwis tangan dua.
21. Gesut a Tabrak a.
22. Pancer I Pacul a spj Garuda a.
23. Daun melayang Garuda dalam i.
24. Mundur I sikap Harimau merendah.
25. Kilat Jontrot a.
26. Berdiri sikap Satria merendah.
27. Mundur I kipas Putri Bersedia (badan mantul).
28. Gesut a tampar a.
29. Mundur a Pendeta dalam i.
30. Hempis ke i tutup Bunga Sepasang.
Salam Penutup

Teknik Asli

Teknik silat Perisai Diri mengandung unsur 156 aliran silat dari berbagai daerah di Indonesia yang dipilah dan dikelompokkan sesuai dengan karakter dari masing-masing aliran. Teknik Asli dalam silat Perisai Diri juga digali dari aliran Siauw Liem Sie (Shaolinshi) yang dengan kreativitas Pak Dirdjo gerakan maupun implementasinya sudah dijiwai oleh karakter pencak silat Indonesia. Hal ini yang menjadikan ilmu silat Perisai Diri mempunyai sifat unik, tidak ada kemiripan dengan silat yang lain. Disebut Asli karena mempunyai frame tersendiri, bukan merupakan kombinasi dari beberapa aliran silat.
Teknik Asli dalam silat Perisai Diri di antaranya yaitu :
  1. Burung Meliwis
  2. Burung Kuntul
  3. Burung Garuda
  4. Harimau
  5. Naga
  6. Satria
  7. Pendeta
  8. Putri
Selain teknik tersebut di atas, ada beberapa teknik yang menjadi kekayaan teknik silat Perisai Diri, di antaranya yaitu Kuda Kuningan, Lingsang, Satria Hutan dan Kera, serta beberapa teknik dari beberapa daerah di Indonesia, di antaranya yaitu Minangkabau, Jawa Timuran, Cimande, Bawean dan Betawen

JANJI PERISAI DIRI

VERSI LAMA


Kami Keluarga Silat Indonesia Perisai Diri Berjanji :

1. Bertaqwa Kepada Tuhan Yang Maha Esa
2. Setia Dan Taat Kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia
3. Mendahulukan Kepentingan Negara Diatas Kepentingan Pribadi dan Golongan
4. Patuh Pada Perguruan dan Melaksanakan Dengan Penuh Rasa Tanggung Jawab, Asas dan Tujuanya.
5. Memupuk Rasa Kasih Sayang dan Kekeluargaan di Antara Sesama Anggota





VERSI BARU


Kami Keluarga Silat Nasional Perisai Diri Berjanji :

1. Berketuhanan yang Maha Esa
2. Setia Dan Taat Kepada Negara
3. Mendahulukan Kepentingan Negara
4. Patuh Pada Perguruan
5. Memupuk Rasa Kasih Sayang

Senjata dalam Perisai Diri



Tidak semua aliran beladiri memberikan pelajaran senjata, tetapi semua aliran pasti mengajarkan bagaimana menghadapi lawan yg menggunakan senjata. Beberapa aliran juga ada yg khusus menekuni senjata, seperti Arnis (Filipina) yg mempelajari stick kembar, para samurai yg menekuni pedang kitana atau kungfu yg menekuni bermacam-macam senjata.
Dalam silat Perisai Diri, pelajaran senjata dibagi menjadi 2 macam. Pelajaran senjata wajib dan senjata tambahan. Senjata wajib dipelajari sejak mereka berada di tingkat keluarga, setelah 2 tahun mengikuti Perisai Diri. Adapun senjata wajib tersebut adalah: Pisau, Pedang dan Thoya. Pelajaran tersebut diberikan scr terstruktur dimulai dari dasar pemahaman senjata dan cara penggunaannya.
Mau tau kenapa harus pisau, pedang dan thoya yg menjadi senjata wajib ?
Pisau adalah dasar dari senjata pendek. Setelah mempelajari senjata tersebut, anggota PD diharapkan bisa menggunakan senjata pendek lain spt keris, gunting, pena, dsb. Pedang adalah dasar dari senjata sedang. Sesuai dengan bentuknya, pedang berfungsi untuk memperpanjang dan mempertajam serangan. Setelah mengerti akan penggunaan pedang, siswa diharapkan dapat menggunakan benda dengan panjang yg sama sebagai senjata. Thoya adalah dasar dari senjata panjang. Tidak berbeda dengan yg lain, stl belajar tehnik thoya, siswa diharapkan bisa menerapkan benda apapun yg panjang sbg senjata.
Jadi jelaskan kenapa tiga senjata itu yg dikurikulumkan untuk dipelajari..
Selain senjata wajib, PD juga memberikan pelajaran senjata lain seperti pedang samurai, kipas, abir, pentung, teken, tameng, clurit dll. Seluruh senjata yg tidak termasuk dalam senjata wajib, oleh PD dikategorikan sebagai senjata tambahan. Namun dalam mempelajarinya, tidak terkait dengan tingkatan.
Ada satu hal penting yg perlu diingat dlm pelajaran senjata. Tujuan utama dari pelajaran senjata, bukanlah dengan menunjukan seberapa mahir kita memainkan suatu senjata. Namun lebih mengarah bahwa seorang anggota PD yg telah menguasai tehniknya, dapat menggunakan benda apapun sebagai senjata..

Sejarah PD




Pendiri Keluarga Silat Nasional Indonesia Perisai Diri adalah RM Soebandiman Dirdjoatmodjo, yang akrab dengan panggilan Dirdjo. Beliau adalah putra RM Pakoe Soedirdjo, lahir di Yogyakarta tanggal 8 Januari 1913 di lingkungan Keraton Paku Alaman.
Sejak berusia 9 tahun Dirdjo telah dapat menguasai ilmu silat yang ada di lingkungan keraton. Karena ingin meningkatkan kemampuan ilmu silatnya, setamat HIK, Dirdjo kecil meninggalkan Keraton Paku Alaman dengan berjalan kaki, hanya berbekal tekad. Sampai di Jombang, yang merupakan pusat pesantren di Jawa Timur dengan fasilitas lengkap, ia belajar ilmu agama dan pengetahuan umum di Pondok Pesantren Tebuireng, sambil belajar ilmu silat dari Hasan Basri.
Sambil belajar dan bekerja di Pabrik Gula Peterongan, dengan tekun Dirdjo terus memperdalam ilmu dan tidak menyia-nyiakan waktunya selama di perantauan. Setelah merasa cukup, ia kembali ke Solo dan mendatangi Bapak Sahid Sahab untuk berguru silat. Selanjutnya ia berguru kepada kakeknya, Jogosurasmo yang ahli ilmu kanuragan.
Tujuan selanjutnya adalah kota Semarang, di mana ia belajar ilmu silat pada Bapak Soegito. Masih belum puas dengan pengalaman dan ilmu yang dimilikinya, Dirdjo berguru lagi ilmu kanuragan di Pondok Randu Gunting, Semarang. Langkah selanjutnya menuju ke daerah Jawa Barat, dimulai dari kota Cirebon yang waktu itu cukup dikenal sebagai tempat menimba ilmu silat dan kanuragan. Daerah Kuningan juga dikunjunginya untuk berguru ilmu silat.
Setelah Jawa Barat, Dirdjo yang belum puas menuntut ilmu silat, juga berlatih silat Minangkabau dan silat Aceh. Tekadnya untuk menggabungkan dan mengolah berbagai ilmu yang dipelajarinya membuat ia tidak bosan-bosan menimba ilmu. Berpindah guru baginya berarti mempelajari hal yang baru dan menambah ilmu yang dirasakannya kurang. Berbagai pengalaman dan gemblengan akhirnya menjadikan Dirdjo bermental baja dan penuh percaya diri. Ia yakin, bila segala sesuatu dikerjakan dengan baik dan didasari niat yang baik, maka Tuhan akan menuntun untuk mencapai cita-citanya. Ia pun mulai meramu ilmu silat sendiri.
RM Soebandiman Dirdjoatmodjo lalu menetap di Parakan, Banyumas, dan membuka Perguruan Silat Eka Kalbu. Suatu saat ia bertemu dengan seorang Tionghoa yang beraliran beladiri Siauw Lim Sie, Yap Kie San namanya. Dirdjo yang untuk menuntut suatu ilmu tidak memandang usia dan suku bangsa lalu mempelajari ilmu beladiri Siauw Liem Sie dari Suhu Yap Kie San selama 14 tahun. Berbagai cobaan dan gemblengan ia jalani dengan tekun sampai akhirnya berhasil mencapai puncak latihan ilmu silat dari Suhu Yap Kie San.
Setinggi-tinggi burung terbang akhirnya kembali juga ke sarangnya. Begitu juga dengan Dirdjo yang akhirnya kembali ke tanah kelahirannya, Yogyakarta. Ki Hajar Dewantoro yang masih Pak De-nya, meminta Dirdjo mengajar silat di lingkungan Perguruan Taman Siswa.
Tahun 1947 Dirdjo diangkat menjadi Pegawai Negeri pada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan seksi Pencak Silat. Dengan tekad mengembangkan ilmunya, Dirdjo lalu membuka kursus silat umum, selain mengajar di HPPSI dan Himpunan Siswa Budaya.
Tahun 1954 ia dipindahkan ke Surabaya ke Kantor Kebudayaan Jawa Timur. Di sinilah dengan dibantu Imam Ramelan, ia membuka dan mendirikan kursus pencak silat "Keluarga Silat Nasional Indonesia PERISAI DIRI" pada tanggal 2 Juli 1955.
Teknik silat yang diajarkannya adalah gabungan berbagai ilmu beladiri yang ada di Indonesia. Pengalaman dan ilmu silat yang dikuasainya selama itu kini tercurah dalam teknik yang sangat sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan anatomi tubuh manusia.
Dari mulai didirikan hingga kini teknik silat Perisai Diri tidak pernah berubah, berkurang atau bertambah. Dengan motto Pandai Silat Tanpa Cedera, Perisai Diri diterima oleh berbagai lapisan masyarakat untuk dipelajari sebagai ilmu beladiri.
Tanggal 9 Mei 1983, RM Soebandiman Dirdjoatmodjo berpulang ke Rahmatullah. Tanggung jawab untuk melanjutkan teknik dan pelatihan silat Perisai Diri beralih kepada para murid-muridnya yang kini telah menyebar ke seluruh pelosok tanah air dan beberapa negara di Eropa, Amerika dan Australia. Untuk menghargai jasanya, pemerintah Indonesia menganugerahkan gelar "Pendekar Purna Utama" bagi Bapak RM Soebandiman Dirdjoatmodjo tahun 1986.